Ada Apa dengan Pembangunan Proyek PLTA Batang Toru

Pembangunan proyek PLTA di Batang Toru yang disebut – sebut akan menjadi PLTA terbesar di Sumatera ini ditargetkan akan selesai pada tahun 2022. PLTA ini merupakan upaya untuk memaksimalkan potensi sumber daya air dalam proses produksi listrik negeri. Diketahui bersama bahwa suatu saat energi fosil yang saat ini digunakan pasti akan habis, sehingga memerlukan inovasi – inovasi untuk menggunakan energi terbarukan sebagai penggantinya.

Lokasi Penting Pembangunan PLTA

Lokasi pembangunan PLTA di Tapanuli Selatan ini berada di titik utama kekayaan dan keanekaragaman hayati Batang Toru. Pembangunan PLTA di Batang Toru juga sampai pada lempeng sesar toru yang berpotensi gempa. Hal ini merupakan hal yang dikhawatirkan masyarakat yang takut akan ancaman bencana alam yang disebabkan karena kerusakan alam. Pembangunan PLTA ini juga berada di dekat wilayah konservatif hutan batang toru yang merupakan habitat bagi tumbuhan – tumbuhan dan binatang liar yang keberadaannya hampir punah.

Kontroversi Pendirian PLTA Batang Toru

Pendirian PLTA di Tapanuli Selatan ini mengundang banyak pro dan kontra yang muncul dari berbagai lapisan masyarakat. Pro dan Kontra tersebut muncul akibat adanya benturan pendapat tentang kesejahteraan ekonomi masyarakat yang akan meningkat dan kerusakan alam.

Pasokan listrik di Sumatera saat ini dinilai mengalami kekurangan.  Namun klaim tersebut terbantahkan oleh pernyataan yang menyatakan bahwa kondisi kelistrikan di Sumatera telah mengalami surplus 15 persen atau 272 MW dari total 2.326 MW yang digunakan untuk memenuhi sekitar 3,4 juta pelanggan listrik. Proyek ini juga mengundang banyak pegiat lingkungan mengutarakan opininya. Pihak yang kontra dengan pembangunan proyek ini menyatakan bahwa proyek ini hanya akan menyebabkan kerusakan lingkungan. Sebagaimana diketahui, proyek ini memakan lahan yang menjadi habitat asli orang utan tapanuli yaitu spesies kera besar yang langka di dunia yang saat ini jumlahnya hanya sekitar 890 ekor saja. Lokasi pembangunan PLTA di Batang Toru dikhawatirkan akan memisahkan antara habitat populasi orang utan di sebelah barat dan yang berada di cagar alam dolok sibual-buali.

Related posts: